Rabu, 02 April 2014

Inilah Tarif "Cabe-cabean" di Jakarta Rp 30 Juta

INFO BOS - Inilah Tarif "Cabe-cabean" di Jakarta Rp 30 Juta. Remaja laki-laki berusia sekitar 16 tahun langsung bersemangat begitu melihat ada sebuah mobil berhenti, Jumat (28/3/2014) malam. "Mencari 'cabe-cabean', Om?" tanyanya kepada seorang pengendara mobil.

Inilah Tarif "Cabe-cabean" di Jakarta Rp 30 Juta
Ilustrasi (Foto: Google Image)

Inilah Tarif "Cabe-cabean" di Jakarta Rp 30 Juta

Waktu sudah menunjukkan hampir lewat tengah malam di kawasan Kembangan, Jakarta Barat, tak jauh dari Kantor Wali Kota Jakarta Barat. Remaja itu tak sendiri. Dia berlima dengan rekannya, masing-masing membawa sepeda motor.

Dari lima remaja itu, empat di antaranya mengaku masih duduk di kelas X SMK. Seorang lagi sudah putus sekolah sejak SMP. Mereka punya bisnis "cabe-cabean", tetapi baru dalam tahap merintis.

Salah satu remaja itu meminta dipanggil Chito (bukan nama sebenarnya). Di antara rekan-rekannya, baru dia yang punya stok "cabe-cabean". "Saya punya dua stok 'cabe' yang siap diantar apabila ada yang memesan jasanya," katanya terus terang.

Satu "cabe" masih gadis. Usianya baru 16 tahun dan masih duduk di kelas X SMA. Ia mengatakan bahwa orang yang dimaksud cantik, berkulit putih, dan berambut panjang. Namanya Sasya (bukan nama sebenarnya). "Ia dijamin masih gadis. Harganya Rp 20 juta," ujar remaja ini sebagaimana dilansir Warta Kota.

Kemudian, satu "cabe" lainnya jauh lebih murah karena bukan gadis lagi. Sama seperti Sasya, dia masih duduk di kelas X SMA. Namanya Dini (bukan nama sebenarnya). Sekali melayani tamu, tarifnya Rp 500.000. "Satu kali saja, Mas, dan tinggal mencari hotel saja," kata remaja itu.

Namun, Dini tak bisa melayani tamu di atas pukul 22.00 lantaran harus pulang ke rumah pada jam itu, kecuali pada akhir pekan. Sementara Sasya hanya bisa sampai pukul 17.00 karena orangtuanya mengharuskan Sasya harus sudah pulang.

Dini dan Sasya punya perbedaan. Dini tadinya "cabe" di arena balapan liar. Saat duduk di kelas II SMP, Dini sudah melepas kegadisannya senilai Rp 15 juta. Chito mengaku mengenal Dini dari arena balap liar.

Sementara Sasya, kata Chito, dikenalnya di sebuah pusat perbelanjaan. Setelah keduanya sering kontak dan jalan bareng, Sasya meminta Chito menjual kegadisannya.

Chito mengaku, menjual Dini lebih mudah ketimbang menjual Sasya. "Kalau Sasya harus bos-bos soalnya. Kalau Mas punya bos mau, kabari saja, atau tawarin saja sekalian, naikkan tarifnya. Nanti kelebihannya untuk Mas," kata Chito.

Di Jakarta, pasaran "cabe" gadis paling mahal Rp 30 juta. Transaksi ini pernah terjadi di kawasan Kemayoran. "Makanya, nanti Sasya mau saya coba tawarkan di Kemayoran. Bisa lebih tinggi di sana," kata Chito.

Sumber Artikel: Kompas.com
readmore »»  

Lika-liku Bisnis "Cabe-cabean" di Jakarta...

INFO BOS - Lika-liku Bisnis "Cabe-cabean" di Jakarta... Buat sebagian warga Jakarta, istilan "cabe-cabean" sudah tak asing lagi. Mereka kerap berada di sekitar arena balap motor liar di Jakarta dan juga di perempatan-perempatan. Tarif "cabe-cabean" atau pekerja seks komersial yang berusia belasan tahun mencapai hingga Rp 30 juta.

Lika-liku Bisnis "Cabe-cabean" di Jakarta...
Ilustrasi (foto: Google Image)

Lika-liku Bisnis "Cabe-cabean" di Jakarta...

Lantas, bagaimana bisnis "cabe-cabean" di Jakarta?

Chito, seorang pebalap motor liar yang merangkap sebagai "germo", mengungkapkan lika-liku bisnis "cabe-cabean" di Jakarta. Pelajar SMA ini mengaku mendapat inspirasi menggeluti bisnis ini dari Farhan (bukan nama sebenarnya), temannya. Kini, Farhan dikatakan telah meraup untung banyak dari bisnis "cabe-cabean".

Ia menceritakan, Farhan menjual pacarnya sendiri. Pacar Farhan ini awalnya "cabe" balapan liar. Mereka baru berpacaran empat bulan. Sang pacar tertarik karena Farhan kerap menang di arena balap liar.

Farhan awalnya berprofesi sebagai joki balap liar. Dia yang merayu pacarnya agar mau menjual kegadisannya. "Daripada saya yang pakai sendiri tidak saya bayar, lebih baik orang lain," ujar Chito meniru ucapan Farhan.

Harga kegadisan pacar Farhan terjual Rp 38 juta di Kemayoran. Farhan menjualnya sendiri di Kemayoran, Jakarta Pusat. Ia mengincar orang-orang tua yang nongkrong di situ. Kemudian, pembelinya adalah seorang lelaki tua bermobil sedan putih mengilap dan baru.

Adalah Chito yang mengantar dan menunggu sampai selesai. Selanjutnya, uang tersebut dibagi tiga. "Cabe" mendapat Rp 30 juta, Farhan sebesar Rp 5 juta, dan Chito sisanya.

Farhan kemudian mengembalikan uang sebesar Rp 5 juta itu ke arena balap liar. Dia membongkar motor matic-nya habis-habisan, menaikkan kapasitas mesin motor matic-nya dengan meng-oversize mesin, mengganti ban depan dan belakang dengan ban kecil, mengecat motornya dengan teknik air brush.

Inilah "lingkaran setan" di dunia balap liar. Ada "cabe" yang masih gadis atau tidak, ada motor yang butuh dana, serta uang taruhan. "Cabe" yang masih gadis dijual, lalu uangnya kembali lagi ke arena balap liar. Uang ini digunakan untuk taruhan dan memodifikasi motor.

Dioper

Chito mengatakan, menjual "cabe" yang masih gadis lebih sulit. Ada istilah "dioper" dalam bisnis "cabe" gadis. Dioper berarti dijual oleh pihak ketiga atau pihak lain. Makanya, tidak heran kalau tarifnya semakin mahal. Belum lagi ada istilah "uang berisik". Uang ini diberikan konsumen ke penjual terakhir. Besarannya beragam, tergantung kesepakatan, berkisar Rp 500.000 sampai Rp 2 juta.

Sumber Artikel: Kompas.com
readmore »»  

Yuk Mengenal "Cabe-cabean" di Jakarta

INFO BOS - Yuk Mengenal "Cabe-cabean" di Jakarta. Istilah "cabe-cabean" ramai diberitakan belakangan ini. Bagi orang awam, istilah ini digunakan untuk menggambarkan gadis di bawah umur yang mulai merintis bisnis prostitusi.

Yuk Mengenal "Cabe-cabean" di Jakarta
Ilustrasi : Cewek Cabe-Cabean (Foto: Google Image)

Yuk Mengenal "Cabe-cabean" di Jakarta

Awalnya, "cabe-cabean" adalah sebutan untuk perempuan ABG yang menjadi bahan taruhan di arena balap liar. "Cabe" balapan yang sudah sering berhubungan seksual memilih untuk menjual dirinya.

Saat ini, ada tiga jenis "cabe", yakni "cabe ijo", "cabe merah", dan "cabe oranye".

"Cabe ijo" yang memiliki kelas tertinggi dari kelas "cabe-cabean" itu merupakan gadis di bawah umur yang berusia sekitar 14-17 tahun. Tak sedikit dari mereka yang merupakan siswa sekolah menengah atas (SMA), bahkan beberapa ada yang masih berada di sekolah menengah pertama. Mereka memiliki gaya busana yang modis dan trendi, tetapi tidak menonjol.

Berbeda dengan "cabe-cabean" lainnya, "cabe ijo" hanya dapat dijumpai di beberapa pusat perbelanjaan kelas atas ataupun lokasi-lokasi gaul di bilangan Jakarta. Kebanyakan mereka ditemui secara berkelompok dan hanya memilih pelanggan yang sudah dikenalnya lewat media sosial, seperti Twitter dan Facebook.

"Cabe ijo" juga aktif di media sosial. Mereka kerap memasang foto-foto dengan pose tertentu dan informasi tarif di akun media sosial mereka. Mereka bekerja sebagai pekerja seks komersial (PSK) untuk memenuhi kebutuhan tersier seperti membeli pakaian, telepon genggam, sehingga tidak mudah bagi pelanggan untuk menyewa jasanya karena harus melalui tahapan pendekatan.

Pendekatan, di antaranya, bisa berupa mem-follow akun Twitter-nya, kerap me-retweet atau rajin memberikan komentar.

Sementara itu, "cabe merah" adalah PSK yang berusia 16-19 tahun. "Cabe merah" sedikit lebih menonjol karena berani mengenakan pakaian mini dan menonjolkan lekuk tubuh. Mereka pun kerap menghabiskan waktu di minimarket ataupun klub-klub malam di Jakarta.

"Cabe merah" relatif lebih mudah dicari. Mereka biasanya beroperasi sesuai jam operasional klub, mulai pukul 22.00-03.00. Transaksinya juga jelas, tinggal ditanya, langsung jalan.

Selanjutnya "cabe oranye". Tipe ini biasanya berkumpul di taman, arena parkir liar, ataupun pinggir jalan. Pada beberapa kesempatan, "cabe-cabean" ini menggunakan berbagai modus untuk menjaring pelanggan, mulai dari mengamen ataupun ikut para pebalap liar.

"Cabe oranye" menjadikan ini sebagai profesi tetap.

Sumber Artikel : Kompas.com
readmore »»  

"Cabe-cabean", Miniatur Eksploitasi Manusia

INFO BOS - "Cabe-cabean", Miniatur Eksploitasi Manusia. Fenomena "cabe-cabean" di kalangan remaja di kawasan sekitar Jakarta berdampak buruk bagi mereka karena memberikan pendidikan seksual yang tidak semestinya.

"Cabe-cabean", Miniatur Eksploitasi Manusia
Ilustrai Foto Model (Foto: Google Image)

"Saya terperangah oleh ulah para remaja Ibu Kota zaman sekarang. Fenomena 'cabe-cabean' itu sebenarnya miniatur eksploitasi manusia atas manusia lain yang umumnya masih ABG (anak baru gede)," ujar pakar psikologi forensik, Reza Indragiri Amriel, kepada Warta Kota, Senin (1/4/2014).

Menurut Reza yang juga dosen Ubinus Jakarta ini, fenomena "cabe-cabean" bukan jadi motif yang sesungguhnya, melainkan lebih sebagai manifestasi need for power.

Pebalap sepeda motor liar ini memakai modus berupa grooming behaviour. Itu merupakan salah satu cara untuk memikat anak perempuan yang masih remaja tersebut.

"Nekat di arena balap liar membuat tampilan motor menjadi keren itu adalah salah satu bentuk grooming behaviour maupun sikap-sikap tak asli lainnya di kalangan para remaja Ibu Kota," ucap Reza.

"Cabe-cabean", Miniatur Eksploitasi Manusia
Perempuan ABG

Reza mengatakan, sebenarnya fenomena "cabe-cabean" ini mirip pemerkosaan. Namun, pada usia itu, para "cabe" tak akan dan belum sadar akan dampak buruk yang akan diterimanya.

"Cabe-cabean" ini cenderung mengikuti apa saja kemauan pebalap yang mereka kagumi karena grooming behaviour itu. Dari sini, mereka mudah digerakkan, termasuk dijual kegadisannya dan sebagainya.

Menurut Reza, ketika mereka sadar dan merasa terkelabui, itu bisa saja disebut pemerkosaan. Namun, pembuktiannya tidak mudah.

Sebenarnya, lanjut Reza, imbas dari seks bebas di usia ABG ini sangat berbahaya. Mereka sama saja meletakkan fondasi buruk dalam kehidupan seksualnya.

"Anda tahu apa yang akan terjadi selanjutnya atau di kemudian hari," ucap Reza.

Selanjutnya, anak-anak ini akan makin permisif dengan seks liar di usia dewasa. Menjadi pekerja seks komersial ataupun berganti-ganti pasangan. Sebab, fondasi seksualnya sejak usia belia sudah salah.

Ini kemudian akan berkembang ke berbagai masalah, perceraian, penyakit HIV/AIDS, dan tentu saja pelacuran semakin tidak terkontrol. Jadi, membiarkan "cabe-cabean" terus berkembang sama saja dengan pemeliharaan kerajaan pelacuran.

Sumber Artikel: Kompas.com
readmore »»  

Feby Febiola Buka Lowongan Calon Suami dari Batak

INFO BOS - Feby Febiola Buka Lowongan Calon Suami dari Batak. Feby Febiola memang akrab dengan bekas suaminya, Bruce Nicholas Delteil. Meski begitu, perceraian ternyata masih menyisakan trauma. Ia kapok membina rumahtangga dengan pria bule. "Iya, kapok. Aku mau sama Indonesia saja," ucapnya, Selasa, (1/4/2014), saat ditemui di kawasan Epicentrum, Kuningan, Jakarta.

Feby Febiola Buka Lowongan Calon Suami dari Batak
Feby Febiola Seksi (Foto: google image)

Feby Febiola Buka Lowongan Calon Suami dari Batak

Bahkan, ia punya keinginan punya pasangan hidup seorang pria batak. "Kalau ada yang Batak, enggak apa-apa. Ada yang mau?" lanjut bintang film "3600 Detik" tersebut.

Hmmm...tampaknya ia menegaskan perasaannya kepada Franky Sihombing. Penyanyi rohani itu memang pernah dikabarkan punya kedekatan spesial dengan Feby. Keduanya juga beberapa kali kepergok jalan bareng di sebuah pusat perbelanjaan.
Namun, dia enggan mengomentari hal itu. Sebab, ia tidak mau berspekulasi terkait hubungannya ke depan bersama ayahanda Petra Sihombing tersebut.

"Kita lihat saja ke depannya," ucapnya. Yang jelas, saat ini ia bahagia menikmati masa kejombloannya. Ia bisa lebih bebas melakukan banyak hal di dunia entertainment yang membesarkan namanya.

Sumber: Tribunnews.com
readmore »»  

Ungkapan Syukur dan Lega Nia Daniati Setelah Berhasil Cerai dari Farhat Abbas

INFO BOS - Ungkapan Syukur dan Lega Nia Daniati Setelah Berhasil Cerai dari Farhat Abbas. Keputusan Nia Daniati (49) untuk berpisah dengan Farhat Abbas (37) sepertinya membawa angin segar bagi pelantun lagu 'Gelas Gelas Kaca' tersebut.

Ungkapan Syukur dan Lega Nia Daniati Setelah Berhasil Cerai dari Farhat Abbas
Nia Daniati dan Farhat Abbas (Foto: Tribunnews.com)

Ungkapan Syukur dan Lega Nia Daniati Setelah Berhasil Cerai dari Farhat Abbas

Ia begitu sumringah tatkala bisa lepas dari kehidupannya selama ini yang sepertinya amat sangat terbatas dalam hal berinteraksi. Menurut Nia, kehadirannya di ulang tahun Ikmal dikarenakan dirinya ingin melepas rindu dengan sahabat-sahabatnya yang dulu jarang ia temui selama ini.

"Paling tidak melepas kangen ke teman-teman. Yang dulunya enggak bisa ketemu, sekarang bisa ketemu," kata Nia, saat ditemui di Space Kemang, Jakarta Selatan, Senin (31/3).

Ia pun tidak memungkiri selama menikah dengan pria yang dikenal sebagai pengacara kontroversial tersebut, dirinya merasa terbatasi ruang lingkupnya.

Ia merasa terkekang selama jadi istri pengacara kontroversial yang kini menjalin cinta dengan wanita bernama Regina itu.
"Seperti itulah (protektif)," sambung Nia. Kini dengan proses cerai yang sedang dihadapinya, Nia Daniati merasa bebannya sedikit berkurang. Ia bahkan karakter dirinya yang terdahulu, muncul kembali dikehidupannya yang sekarang. "Saya merasa seperti diri saya sendiri," ungkap ibu dua orang anak itu.

Sumber: Tribunnews.com
readmore »»  

Tanah Kuburan Belum Kering, Istri-Istri Jojon Ribut Harta Warisan

INFO BOS - Tanah Kuburan Belum Kering, Istri-Istri Jojon Ribut Harta Warisan. Belum genap sebulan komedian Jojon meninggal, mantan istri, Iin Sina, terlibat perselisihan dengan istri kedua Jojon, Henny Mariana, karena harta warisan.


Tanah Kuburan Belum Kering, Istri-Istri Jojon Ribut Harta Warisan


Tanah Kuburan Belum Kering, Istri-Istri Jojon Ribut Harta Warisan

Bahkan kini, kisruh perebutan harta istri dan mantan istri komedian bernama asli Djuhri Masdjan itu kian memanas. Keduanya terlibat perselisihan saat Adi, putra pertama Iin Sina, mengambil alat musik gamelan dari kediaman Henny.

Sementara itu, Adi mengaku hanya meminta alat-alat kesenian, dan ilmu yang merupakan harta berharga ayahnya.

"Itu bohong besar. Alat kesenian itu mereka bukan meminta. Mereka mengambil dari rumah saya. Enggak bener almarhum hanya meninggalkan gendang. Sekarang anaknya yang paling tua, Endang Supardi tanya dia tinggal di rumah siapa, dari siapa," kata Henny saat dihubungi melalui sambungan telefon, Rabu (2/4/2014).

Menurut Henny, awalnya Adi dan keluargannya mendatangi kediaman almarhum di kawasan Sentul, tepat di hari Jojon meninggal. Bahkan, hingga beberapa hari, awalnya mereka tampak baik-baik saja.

"Aku welcome. Aku tidak membuat masalah apa-apa. Mereka bilang itu (masalah harta) di infotaiment. Mau mengarah ke mana? Hari H datang kita biasa saja. Hari ketiga saat tahlil mereka datang, biasa saja. Besoknya keluar statement di infotaiment," jelasnya.

Sumber: okezone.com
readmore »»  

Arsip Blog