Kamis, 13 Desember 2012

Inilah Seleb Paling Populer Versi Google

INFO BOS - Inilah Seleb Paling Populer Versi Google. Google sebagai mesin pencarian terbesar di dunia, merilis siapa dan hal apa saja yang paling banyak di cari oleh orang-orang di seluruh dunia di sepanjang tahun 2012 ini.

Inilah Seleb Paling Populer Versi Google

Tragedi meninggalnya Diva, Whitney Houston bulan Februari lalu, menjadi yang paling banyak dicari untuk kategori 'Trending Searches', 'Trending Performances Artist' dan 'Trending People'. Rapper fenomenal asal Korea, PSY juga masuk kedalam kategori 'Trending Searches' di urutan kedua di bawah Whitney Houston. Lalu ada lagi Duchess Of Cambridge, Kate Middleton yang tengah hamil muda juga berada di bawah Whitney dalam kategori 'Trending People'.

Sementara foto-foto personil Boyband, One Direction menjadi yang paling banyak di cari tahun ini sebagai 'Trending Images'. Terbanyak kedua adalah gambar-gambar Selena Gomez, lalu gambar iPhone 5 di urutan ketiga, Megan Fox dan Rihanna di tempat ke-empat dan ke-lima.

Berikut Daftar apa saja yang paling banyak di cari Di Google di tahun 2012 :

Trending Searches :

1. Whitney Houston
2. Gangnam Style
3. Hurricane Sandy
4. iPad 3
5. Diablo 3
6. Kate Middleton
7. Olympics 2012
8. Amanda Todd
9. Michael Clarke Duncan
10. BBB12

Trending People :

1. Whitney Houston
2. Kate Middleton
3. Amanda Todd
4. Michael Clarke Duncan
5. One Direction
6. Felix Baumgartner
7. Jeremy Lin
8. Morgan Freeman
9. Joseph Kony
10. Donna Summer

Trending TV Shows :

1. BBB12
2. Avenida Brasil
3. Here Comes Honey Boo Boo
4. The Voice
5. American Idol
6. Game of Thrones
7. Homeland
8. Revenge
9. Cheias de Charme
10. Carrossel

Trending Images :

1. One Direction
2. Selena Gomez
3. iPhone 5
4. Megan Fox
5. Rihanna
6. Justin Bieber
7. Harry Styles
8. Minecraft
9. Nicki Minaj
10. Katy Perry

Trending Feature Films :

1. The Hunger Games
2. Skyfall
3. Prometheus
4. The Avengers
5. Magic Mike
6. John Carter
7. Ek Tha Tiger
8. Paranormal Activity 4
9. Taken 2
10. Dark Shadows

Trending Performance Artists :

1. Whitney Houston
2. Michael Clarke Duncan
3. One Direction
4. Donna Summer
5. Lana Del Ray
6. Carolina Dieckmann
7. Dirk Bach
8. Carly Rae Jepsen
9. Michel Telo
10. LMFAO

Sumber : Zackyliciouss
readmore »»  

Britney Spears Penyanyi Wanita Terkaya 2012

INFO BOS - Britney Spears Penyanyi Wanita Terkaya 2012. Tahun 2012 menjadi tahun yang istimewa bagi Popstar, Britney Spears, karena tahun ini ia meraup begitu banyak Dollar dan membuatnya di nobatkan sebagai penyanyi dengan penghasilan tertinggi di tahun 2012 ini oleh Forbes.

Britney Spears Penyanyi Wanita Terkaya 2012
Di sepanjang tahun 2012 , Juri X-Factor Amerika ini merilis album baru, 'Femme Fatale' yang sukses di pasaran, lalu dilanjut dengan rangkaian konser yang menghasilkan pundi-pundi Dollar bagi ibu dua anak ini, di total, Britney berhasil mengumpulkan $58 Juta atau sekitar Rp. 559 Milyar. Selain itu, bisnis lain yang di miliki Britney juga semakin memperbesar penghasilan penyanyi 'I'm A Slave 4 U' ini. Ditambah kontraknya dengan X-Factor sebesar $15 Juta.

Di tempat kedua di tempati Taylor Swift dengan total penghasilan sebesar $57 Juta, akumulasi dari kontrak eksklusif nya dengan Sony, sebagai Ikon produk kosmetik, CoverGirl dan yang pasti penjualan album di tambah pendapatan konser dunia nya penyanyi yang sedang berpacaran dengan salah satu anggota One Direction, Harry Styles ini.

Posisi 3 ada Rihanna yang berhasil mengumpulkan tota $53 Juta, sementara mantan juara tahun lalu, Lady GaGa harus turun ke posisi 4 tahun ini dengan total penghasilan $52 Juta. Lanjut di nomor lima, di isi oleh si cantik Katy Perry dengan total $45 Juta.

Hasil survey forbes Magazine ini di hitung dari bulan Mei 2011 - Mei 2012, dan belum di potong dengan pajak dan bayaran intern untuk management sang artis.

Inilah Daftar Penyanyi Wanita ber-penghasilan tertinggi 2012 :

1. Britney Spears - $58 Juta
2. Taylor Swift - $57 Juta
3. Rihanna - $53 Juta
4. Lady GaGa - $52 Juta
5. Katy Perry - $45 Juta
6. Beyonce - $40 Juta
7. Madonna - $30 Juta

Sumber : Zackyliciouss
readmore »»  

Selasa, 11 Desember 2012

Diabetes Mellitus dan Pengobatannya

Artikel Kesehatan http://cewekkunakal.blogspot.com/
Diabetes Mellitus dan Pengobatannya
Oleh: dr. Dimas Satya Hendarta
Staff Edukatif Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia


Pendahuluan
Diabetes Mellitus dan Pengobatannya
Diabetes mellitus atau lebih dikenal dengan sebutan “penyakit kencing manis” di masyarakat merupakan salah satu penyakit “abadi” yang terus bermunculan penderitanya dalam kehidupan sehari-hari. Penyakit ini memberikan dampak yang luas bagi pasiennya, tidak hanya karena mengganggu kesehatan semata akibat berbagai komplikasi yang ditimbulkan, namun juga mempengaruhi kehidupan sosial. Faktanya, prevalensi diabetes mellitus secara global terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 1995, prevalensi diabetes mellitus di dunia mencapai 4,0% dan diperkirakan akan meningkat menjadi 5,4% pada tahun 2025. Sedangkan di negara berkembang (termasuk Indonesia), penderita diabetes mellitus pada tahun 1995 telah mencapai 84 juta pasien dan diprediksi akan melonjak hingga 228 juta pasien pada tahun 2025 nanti.(2)

Definisi dan Klasifikasi Diabetes Mellitus
Diabetes mellitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan hiperglikemia kronik sebagai kelainan utamanya akibat adanya insufisiensi kerja insulin.(4)

Berdasarkan etiologinya, American Diabetes Association (2005) mengklasifikasikan diabetes mellitus menjadi empat tipe, yaitu: (1,2)

I. Diabetes Mellitus Tipe 1
(destruksi sel beta, umumnya menjurus ke defisiensi insulin absolut)
A. Melalui proses imunologik
B. Idiopatik

II. Diabetes Mellitus Tipe 2
(bervariasi mulai yang predominan resistensi insulin disertai defisiensi insulin relatif sampai yang predominan gangguan sekresi insulin bersama resistensi insulin)

III. Diabetes Mellitus Tipe Lain
  • Defek genetik fungsi sel beta
  • Defek genetik kerja insulin
  • Penyakit eksokrin pankreas
  • Endokrinopati
  • Karena obat/zat kimia
  • Infeksi
  • Imunologi (jarang)
  • Sindroma genetik lain
  • Diabetes Kehamilan (Gestasional)
Manifestasi Klinis Diabetes Mellitus
Keluhan klasik dari diabetes mellitus meliputi empat hal, yaitu: poliuria, polidipsia, polifagia, dan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya. Keluhan lain yang juga dapat ditemukan pada pasien diabetes mellitus antara lain pasien merasakan lemah, gatal, kesemutan, pandangan kabur, serta adanya disfungsi ereksi pada pria ataupun pruritus vulva pada wanita.(1,2)

Diagnosis Diabetes Mellitus
Dalam menegakkan diagnosis diabetes mellitus, patokan yang dijadikan acuan tentu saja adalah pemeriksaan glukosa darah. Dalam hal ini dikenal adanya istilah pemeriksaan penyaring dan uji diagnostik diabetes mellitus.(1,2)

Pemeriksaan Penyaring
Pemeriksaan penyaring ditujukan untuk mengidentifikasi kelompok yang tidak menunjukkan gejala diabetes mellitus tetapi memiliki resiko diabetes mellitus, yaitu: 1) Umur > 45 tahun, 2) Berat badan lebih (dengan kriteria: BBR > 110% BB idaman atau IMT >23 kg/m2), 3) Hipertensi (≥ 140/90 mmHg), 4) Terdapat riwayat diabetes mellitus dalam garis keturunan, 5) terdapat riwayat abortus berulang, melahirkan bayi cacat, atau BB lahir bayi > 4000 gram, 6) Kadar kolesterol HDL ≤ 35 mg/dl dan atau trigliserida ≥ 250 mg/dl.

Pemeriksaan penyaring dilakukan dengan memeriksa kadar gula darah sewaktu (GDS) atau gula darah puasa (GDP), yang selanjutnya dapat dilanjutkan dengan tes toleransi glukosa oral (TTGO) standar. Dari pemeriksaan GDS, disebut diabetes mellitus apabila didapatkan kadar GDS ≥ 200 mg/dl dari sampel plasma vena ataupun darah kapiler. Sedangkan pada pemeriksaan GDP, dikatakan sebagai diabetes mellitus apabila didapatkan kadar GDP ≥ 126 mg/dl dari sampel plasma vena atau ≥ 110 mg/dl dari sampel darah kapiler.

Uji Diagnostik
Uji diagnostik dikerjakan pada kelompok yang menunjukkan gejala atau tanda diabetes mellitus. Bagi yang mengalami gejala khas diabetes mellitus, kadar GDS ≥ 200 mg/dl atau GDP ≥ 126 mg/dl sudah cukup untuk menegakkan diagnosis diabetes mellitus. Sedangkan pada pasien yang tidak memperlihatkan gejala khas diabetes mellitus, apabila ditemukan kadar GDS atau GDP yang abnormal maka harus dilakukan pemeriksaan ulang GDS/GDP atau bila perlu dikonfirmasi pula dengan TTGO untuk mendapatkan sekali lagi angka abnormal yang merupakan kriteria diagnosis diabetes mellitus (GDP ≥ 126 mg/dl, GDS ≥ 200 mg/dl pada hari yang lain, atau TTGO ≥ 200 mg/dl).

Pengobatan Diabetes Mellitus
Pengobatan diabetes mellitus sangat penting dalam menjaga kestabilan kadar gula darah pasien guna mencegah terjadinya berbagai komplikasi akut dan kronik. Hal tersebut dilakukan melalui empat pilar utama pengelolaan diabetes mellitus, yaitu: (2,3)

1. Edukasi
Berupa pendidikan dan latihan tentang pengetahuan pengelolaan penyakit diabetes mellitus bagi pasien dan keluarganya.

2. Perencanaan makan
Bertujuan untuk mempertahankan kadar normal glukosa darah dan lipid, nutrisi yang optimal, serta mencapai/mempertahankan berat badan ideal. Adapun komposisi makanan yang dianjurkan bagi pasien adalah sebagai berikut: karbohidrat 60-70%, lemak 20-25%, dan protein 10-15%.

3. Latihan jasmani
Berupa kegiatan jasmani sehari-hari (berjalan kaki ke pasar, berkebun, dan lain-lain) dan latihan jasmani teratur (3-4x/minggu selama ± 30 menit).

4. Intervensi farmakologis
Diberikan apabila target kadar glukosa darah belum bisa dicapai dengan perencanaan makan dan latihan jasmani. Intervensi farmakologis dapat berupa Obat hipoglikemik oral/OHO (insulin sensitizing, insulin secretagogue, penghambat alfa glukosidase) dan Insulin, diberikan pada kondisi berikut:
  • Penurunan berat badan yang cepat
  • Hiperglikemia berat disertai ketosis
  • Ketoasidosis diabetik
  • Hiperglikemia hiperosmolar non ketotik
  • Hiperglikemia dengan asidosis laktat
  • Gagal dengan kombinasi OHO dosis hampir maksimal
  • Stress berat (infeksi sistemik, operasi besar, AMI, stroke)
  • Diabetes mellitus gestasional yang tak terkendali dengan perencanaan makanan,
  • Gangguan fungsi ginjal/hati yang berat
  • Kontraindikasi atau alergi OHO
Daftar Pustaka
  1. Gustaviani, R., 2006. Diagnosis dan Klasifikasi Diabetes Mellitus. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, 1879.
  2. Kurniawan, A., 2005. Current Review of Diabetes Mellitus. Kumpulan Makalah One Day Symposium an Update on the Management of Diabetes Mellitus, Panitia Pelantikan Dokter Baru Periode 151 Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret, Solo, 5.
  3. Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia, 2005. Diabetes Melitus. Standar Pelayanan Medik, PB PAPDI, Jakarta, 7.
  4. Soegondo, S. 2011. Diagnosis, Klasifikasi, dan Patofisiologi Diabetes Mellitus. Kumpulan Makalah Update Comprehensive Management of Diabetes Mellitus, Panitia Seminar Ilmiah Nasional Continuing Medical Education Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, 11.

Download File Diabetes Mellitus dan Pengobatannya dalam PDF Disini

Sumber : http://medicine.uii.ac.id/index.php/Artikel/Diabetes-Mellitus-dan-Pengobatannya.html
readmore »»  

Natal Ditemani [Foto] Cewek Seksi

INFO BOS - Natal Ditemani [Foto] Cewek Seksi. Hari NATAL sudah di depan mata.Tentunya anda ingin bersama dengan orang yang anda sayangi bukan. Oh iya, apakah anda membayangkan bila pasangan anda (wanita) memberikan kado Natal dengan berpakaian seksi sambil mengucapkan "SELAMAT HARI NATAL sayang!". Tentunya anda pasti senang dan bahagia. Tapi bagaimana saat anda dalam keadaan sendirian di rumah sementara keluarga yang lainnya berkunjung ke rumah tetangga atau sanak famili?

Jangan merasa kesepian ketika anda sendirian di rumah saat meratakan NATAL. Soalnya nih, Anda akan di temani oleh Cewek Seksi seperti di bawah ini.

Model Seksi Berpakaian Sinterklas - Natal

Di bawah ini ada beberapa Foto Cewek Seksi berpakaian Sinterklas yang bisa menemani Anda saat NATAL. Tentunya anda hanya bisa melihatnya saja. Sekedar mengisi waktu kesendirian anda.

Oh iya, ini hanya sebuah hiburan belaka yah. Untuk menghilangkan rasa bete saja. Silahkan melihatnya.

Model Seksi Berpakaian Sinterklas - Natal

Model Seksi Berpakaian Sinterklas - Natal

Model Seksi Berpakaian Sinterklas - Natal

Model Seksi Berpakaian Sinterklas - Natal

Model Seksi Berpakaian Sinterklas - Natal

Model Seksi Berpakaian Sinterklas - Natal

Model Seksi Berpakaian Sinterklas - Natal

Model Seksi Berpakaian Sinterklas - Natal

Natal Ditemani [Foto] Cewek Seksi. Harapan memang demikian. Namun alangkah baiknya ketika Natal bersama Orang-orang yang kita cintai dan sayangi. Pada kesempatan ini pula Info Bos mengucapkan : Selamat NATAL dan Tahun BARU. Salam. (Info Bos)

Sumber foto : Mesin Pencari Google.
readmore »»  

Inilah Pesona Wanita Yang Iya Banget di Mata Pria

INFO BOS - Inilah Pesona Wanita Yang Iya Banget di Mata Pria. Terkadang pria memandang Wanita itu bukan hanya dari sisi luarnya saja seperti paras yang cantik dan rupawan, body yang bak gitar spanyol, rambutnya yang panjang terurai. Walau memang semua itu bisa menjadi salah satu faktor utama pria mau mendekati wanita. Tapi percaya atau tidak itu semua hanya sementara. Artinya ketika penampilan luar anda berubah bisa-bisa si pria pun akan berpaling ke wanita lain.

Inilah Pesona Wanita Yang Iya Banget di Mata Pria
Ilustrasi - Foto : Vemale.com

Selain penampilan luar yang tadi, ada beberapa Pesona Wanita yang tidak bisa pria lupakan dari wanita itu. Bahkan membuat pria akan terkagum-kagum sama kamu. Oleh karena itu, mulailah mengasah kepribadian Anda dan siap-siap si dia menghampiri Anda karena pesona Anda sudah mampir di hatinya.

Simak beberapa Pesona Wanita Yang Iya Banget di Mata Pria di bawah ini.

1. Bicara Yang Sebenarnya

Kecantikan sejati bisa terpancar ketika kita menjadi orang yang berani bicara sebenarnya, apa adanya, tidak lebih dan tidak kurang. Jarang sekali kita menemukan orang seperti ini karena kita tidak ingin image kita runtuh akan kekurangan kita.

2. Punya Impian Dan Tahu Apa Yang Anda Inginkan

Wanita itu nampak memesona dan seksi ketika dia punya impian dan bisa menentukan apa yang Anda inginkan. Beda dong bila kita hanya bisa bilang, "Terserah." Mulailah cari tahu apa yang Anda impikan dan wujudkan mimpi itu.

3. Menghargai Hidup

Anda tahu apa yang Anda miliki, tahu kekurangan dan kelebihan Anda, serta bagaimana memanfaatkannya agar tidak terbuang sia-sia. Ini merupakan nilai plus karena pria tidak ingin menghabiskan waktu dengan wanita yang tidak bisa menghargai hidupnya.

4. Mencintai Diri Sendiri

Dengan segala kelebihan dan kekurangan secara fisik maupun psikis, Anda bisa menyayangi diri Anda. Justru Anda bisa mengelolanya menjadi potensi diri yang mengagumkan, itu adalah suatu hal yang indah di mata pria.

5. Anda Bisa Menghormati Orang Lain

Sekalipun Anda adalah orang yang bisa menentukan apa yang Anda inginkan, namun Anda tidak akan merugikan orang lain dalam mewujudkannya. Hal seperti ini merupakan bentuk pribadi yang dibutuhkan pria terutama kriteria untuk berumah tangga.

6. Ambisius

Saat Anda menjadi orang yang dengan gigih memperjuangkan mimpi Anda, itu sama nilainya dengan poin kedua. Anda nampak seksi dan keren karena Anda bukanlah sosok yang lemah dan pasrah, tapi punya hal yang ingin Anda wujudkan dan dapatkan.

7. Mau Mengenalnya

Nah, yang terakhir adalah Anda mau mengenalnya. Ya bagaimana dia bisa tertarik kalau Anda tidak mencoba mengenalnya dan selalu menutup diri darinya? Jadilah pribadi yang ramah namun tetap memberi batasan etika dalam berhubungan. And let some interesting moments happen.

Wanita cantik sih banyak, tapi yang cantik dan menarik masih bisa dihitung dengan jari. So, kenapa tidak coba jadi wanita yang cantik dan menarik, Menurut mu?

Sumber : Becak Siantar
readmore »»  

Demam Tifoid

INFO BOS - Demam Tifoid. Salah satu penyakit infeksi sistemik akut yang banyak dijumpai di berbagai belahan dunia hingga saat ini adalah demam tifoid yang disebabkan oleh bakteri gram negatif Salmonella typhi. Di Indonesia, demam tifoid lebih dikenal oleh masyarakat dengan istilah “penyakit tifus”.

Demam Tifoid
Dalam empat dekade terakhir, demam tifoid telah menjadi masalah kesehatan global bagi masyarakat dunia. Diperkirakan angka kejadian penyakit ini mencapai 13-17 juta kasus di seluruh dunia dengan angka kematian mencapai 600.000 jiwa per tahun. Daerah endemik demam tifoid tersebar di berbagai benua, mulai dari Asia, Afrika, Amerika Selatan, Karibia, hingga Oceania. Sebagain besar kasus (80%) ditemukan di negara-negara berkembang, seperti Bangladesh, Laos, Nepal, Pakistan, India, Vietnam, dan termasuk Indonesia. Indonesia merupakan salah satu wilayah endemis demam tifoid dengan mayoritas angka kejadian terjadi pada kelompok umur 3-19 tahun (91% kasus).1,3,4
Munculnya daerah endemik demam tifoid dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain laju pertumbuhan penduduk yang tinggi, peningkatan urbanisasi, rendahnya kualitas pelayanan kesehatan, kurangnya suplai air, buruknya sanitasi, dan tingkat resistensi antibiotik yang sensitif untuk bakteri Salmonella typhi, seperti kloramfenikol, ampisilin, trimetoprim, dan ciprofloxcacin.1

Penularan Salmonella typhi terutama terjadi melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi. Selain itu, transmisi Salmonella typhi juga dapat terjadi secara transplasental dari ibu hamil ke bayinya.4

Manifestasi Klinik dan Temuan Fisik
Masa inkubasi Salmonella typhi antara 3-21 hari, tergantung dari status kesehatan dan kekebalan tubuh penderita. Pada fase awal penyakit, penderita demam tifoid selalu menderita demam dan banyak yang melaporkan bahwa demam terasa lebih tinggi saat sore atau malam hari dibandingkan pagi harinya. Ada juga yang menyebut karakteristik demam pada penyakit ini dengan istilah ”step ladder temperature chart”, yang ditandai dengan demam yang naik bertahap tiap hari, mencapai titik tertinggi pada akhir minggu pertama kemudian bertahan tinggi, dan selanjutnya akan turun perlahan pada minggu keempat bila tidak terdapat fokus infeksi.1,4

Gejala lain yang dapat menyertai demam tifoid adalah malaise, pusing, batuk, nyeri tenggorokan, nyeri perut, konstipasi, diare, myalgia, hingga delirium dan penurunan kesadaran. Pada pemeriksaan fisik, dapat ditemukan adanya lidah kotor (tampak putih di bagian tengah dan kemerahan di tepi dan ujung), hepatomegali, splenomegali, distensi abdominal, tenderness, bradikardia relatif, hingga ruam makulopapular berwarna merah muda, berdiameter 2-3 mm yang disebut dengan rose spot.2,4

Penegakan Diagnosis
Pada pemeriksaan darah tepi dapat ditemukan adanya penurunan kadar hemoglobin, trombositopenia, kenaikan LED, aneosinofilia, limfopenia, leukopenia, leukosit normal, hingga leukositosis.5

Gold standard untuk menegakkan diagnosis demam tifoid adalah pemeriksaan kultur darah (biakan empedu) untuk Salmonella typhi. Pemeriksaan kultur darah biasanya akan memberikan hasil positif pada minggu pertama penyakit. Hal ini bahkan dapat ditemukan pada 80% pasien yang tidak diobati antibiotik. Pemeriksaan lain untuk demam tifoid adalah uji serologi Widal dan deteksi antibodi IgM Salmonella typhi dalam serum. 1,2,4

Uji serologi widal mendeteksi adanya antibodi aglutinasi terhadap antigen O yang berasal dari somatik dan antigen H yang berasal dari flagella Salmonella typhi. Diagnosis demam tifoid dapat ditegakkan apabila ditemukan titer O aglutinin sekali periksa mencapai ≥ 1/200 atau terdapat kenaikan 4 kali pada titer sepasang. Apabila hasil tes widal menunjukkan hasil negatif, maka hal tersebut tidak menyingkirkan kemungkinan diagnosis demam tifoid.4,5

Penatalaksanaan
Hingga saat ini, kloramfenikol masih menjadi drug of choice bagi pengobatan demam tifoid di Indonesia. Dosis yang diberikan pada pasien dewasa adalah 4 x 500 mg hingga 7 hari bebas demam. Alternatif lain selain kloramfenikol, yaitu: tiamfenikol (4 x 500 mg), kotrimoksazol (2 x 2 tablet untuk 2 minggu), ampisilin atau amoksisilin (50-150 mg/kgBB selama 2 minggu), golongan sefalosporin generasi III (contoh: seftriakson 3-4 gram dalam dekstrosa 100 cc selama ½ jam per infus sekali sehari untuk 3-5 hari), dan golongan fluorokuinolon (contoh: ciprofloxcacin 2 x 500 mg/hari untuk 6 hari).5

Di Amerika Serikat, pemberian regimen ciprofloxcacin atau ceftriaxone menjadi first line bagi infeksi Salmonella typhi yang resisten terhadap kloramfenikol, ampisilin, trimethoprim-sulfamethoxazole, streptomycin, sulfonamides, atau tetrasiklin.1

Pada pasien anak, kloramfenikol diberikan dengan dosis 100 mg/kgBB/hari terbagi dalam 4 kali pemberian selama 10-14 hari. Regimen lain yang dapat diberikan pada anak, yaitu: ampisilin (200 mg/kgBB/hari terbagi dalam 4 kali pemberian IV), amoksisilin (100 mg/kgBB/hari terbagi dalam 4 kali pemberian PO), trimethoprim (10 mg/kg/hari) atau sulfametoksazol (50 mg/kg/hari) terbagi dalam 2 dosis, seftriakson 100 mg/kg/hari terbagi dalam 1 atau 2 dosis (maksimal 4 gram/hari) untuk 5-7 hari, dan sefotaksim 150-200 mg/kg/hari terbagi dalam 3-4 dosis.4

Pemberian steroid diindikasikan pada kasus toksik tifoid (disertai gangguan kesadaran dengan atau tanpa kelainan neurologis dan hasil pemeriksaan CSF dalam batas normal) atau pasien yang mengalami renjatan septik. Regimen yang dapat diberikan adalah deksamethasone dengan dosis 3x5 mg. Sedangkan pada pasien anak dapat digunakan deksametashone IV dengan dosis 3 mg/kg dalam 30 menit sebagai dosis awal yang dilanjutkan dengan 1 mg/kg tiap 6 jam hingga 48 jam. Pengobatan lainnya bersifat simtomatik.4,5

Komplikasi
Salah satu komplikasi demam tifoid yang dapat terjadi pada pasien yang tidak mendapatkan pengobatan secara adekuat adalah perforasi dan perdarahan usus halus. Komplikasi ini sering terjadi pada minggu ketiga yang ditandai dengan suhu tubuh yang turun mendadak, adanya tanda-tanda syok dan perforasi intestinal seperti nyeri abdomen, defance muscular, redup hepar menghilang. Komplikasi lain yang dapat terjadi adalah pneumonia, miokarditis, hingga meningitis.2,4

Pencegahan
Pencegahan infeksi Salmonella typhi dapat dilakukan dengan penerapan pola hidup yang bersih dan sehat. Berbagai hal sederhana namun efektif dapat mulai dibiasakan sejak dini oleh setiap orang untuk menjaga higientias pribadi dan lingkungan, seperti membiasakan cuci tangan dengan sabun sebelum makan atau menyentuh alat makan/minum, mengkonsumsi makanan dan minuman bergizi yang sudah dimasak matang, menyimpan makanan dengan benar agar tidak dihinggapi lalat atau terkena debu, memilih tempat makan yang bersih dan memiliki sarana air memadai, membiasakan buang air di kamar mandi, serta mengatur pembuangan sampah agar tidak mencemari lingkungan.

Referensi
  1. Cammie F. Lesser, Samuel I. Miller, 2005. Salmonellosis. Harrison’s Principles of Internal Medicine (16th ed), 897-900.
  2. Chambers, H.F., 2006. Infectious Disease: Bacterial and Chlamydial. Current Medical Diagnosis and Treatment (45th ed), 1425-1426.
  3. Brusch, J.L., 2010, Typhoid Fever. http://emedicine.medscape.com/article/231135-overview.
  4. Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2008, Buku Ajar Infeksi dan Pediatri Tropis (2nd ed), Badan Penerbit IDAI, Jakarta.
  5. Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia, 2006, Standar Pelayanan Medik, PB PABDI, Jakarta.
----------------------------
Oleh: dr. Dimas Satya Hendarta
Staff Edukatif Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia

Sumber : http://medicine.uii.ac.id/index.php/Artikel/Demam-Tifoid.html
Download Demam Tifoid dalam PDF disini
readmore »»  

Gangguan Pendengaran Akibat Bising

Artikel Kesehatan http://cewekkunakal.blogspot.com/
GANGGUAN PENDENGARAN AKIBAT BISING
dr. Rully Satriawan
RSUD Ahmad Yani, Metro, Lampung

PENDAHULUAN
Gangguan pendengaran adalah hal yang lazim kita temui saat ini. Salah satunya adalah gangguan pendengaran akibat bising (GPAB) atau dalam istilah asing disebut Noise Induce Hearing Lost (NIHL). Dengan semakin bertambah majunya teknologi, maka semakin mudah dan nyaman hidup manusia. Tetapi dibalik itu tersimpan ancaman yang sering tersamar dan tidak kita sadari. GPAB ini merupakan salah satu ancaman kemajuan tersebut.

Bising dan penuaan merupakan dua hal utama penyebab hilangnya pendengaran permanen. Sayangnya kelainan ini tidak dapat dikoreksi baik menggunakan obat-obatan maupun tindakan operatif, tetapi GPAB dapat dicegah (Dobie, 2001).

Secara umum bising adalah bunyi yang tidak diinginkan. Bising secara Ilmu Kesehatan Masyarakat adalah suara yang tidak diharapkan dan tidak menyenangkan yang menggangu, atau suara yang diinginkan namun berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan. Bahkan menurut WHO, bising dikategorikan sebagai salah satu jenis polutan (Bunde, 2011). Bising yang intensitasnya 85 desibel (dB) atau lebih dapat menyebabkan rusaknya reseptor pendengaran pada telinga dalam (Soetirto, 2006). Bising dapat kita temui juga dalam kehidupan kita sehari-hari. Tidak hanya bising di tempat kerja, tetapi dapat juga bersumber dari alat rumah tangga, alat elektronik, pemutar musik, pusat perbelanjaan sampai tempat bermain anak-anak.
Pada tahun 1900, angka rata-rata harapan hidup di dunia hanya sebesar 47 tahun. Pada saat itu, kehilangan pendengaran karena penuaan bukan suatu masalah yang banyak ditemukan. Bandingkan dengan saat ini, rata-rata usia harapan hidup sudah meningkat tajam (Burkey, 2006). Usia harapan hidup di Jepang adalah yang tertinggi, mencapai usia 80 tahun. Negara maju seperti Australia, Kanada, Swiss dan lainnya memiliki angka rata-rata harapan hidup yang mencapai 79 tahun (Kinsela, 2000). Saat usia rata-rata semakin tua, maka mulai muncullah akumulasi masalah kesehatan. Tidaklah mengherankan jika pada saat ini kejadian kehilangan pendengaran semakin sering terjadi.

Gangguan pendengaran akibat bising adalah tuli akibat terpapar bising yang cukup keras dalam jangka waktu yang cukup lama. Tuli ini merupakan jenis ketulian sensorineural yang paling banyak ditemui setelah presbiakusis. Sejalan dengan berkembangnya gaya hidup masyarakat, kejadian kehilangan pendengaran semakin banyak ditemukan. Selain paparan suara bising, ada banyak faktor lain yang menyebankan gangguan pendengaran seperti hipertensi, diabetes, obat-obatan, dan paparan substansi yang dapat merusak telinga merupakan penyebab dari berkurangnya pendengaran (Burkey, 2006). Lagi-lagi gaya hidup mempengaruhi berkembangnya keadaan-keadaan tersebut.

Bising lingkungan kerja merupakan masalah utama pada kesehatan kerja di berbagai negara. Sedikitnya 7 juta orang (35% dari populasi industri di Amerika dan Eropa) terpajan bising 85 dB atau lebih (Soetjipto, 2007). Di indonesia penelitian tentang gangguan pendengaran akibat bising telah banyak dilakukan. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Sundari (1994) yang menemukan 31,55% pekerja pabrik peleburan besi di Jakarta menderita tuli akibat bising dengan intensitas bising antara 85-105 dB, dengan masa kerja rata-rata 8,99 tahun (Soetjipto, 2007). Penelitian lain dilakukan oleh Lusianawaty (1998) yang menemukan bahwa 7 dari 22 pekerja (31,8%) di perusahaan kayu lapis Jawa Barat mengalami tuli akibat bising dengan intensitas bising lingkungan antara 84,9-108,2 dB (Soetjipto, 2007). Penelitian tentang gangguan pendengaran akibat bising ini tidak hanya dilakukan di tempat kerja, tetapi juga di lingkungan, seperti yang dilakukan oleh Hendarmin dan Hadjar tahun 1971, mendapatkan bising jalan raya (jl. M.H Thamrin, Jakarta) sebesar 95 dB lebih pada jam sibuk (Soetjipto, 2007).

Fakta bahwa paparan bising yang berlebihan dapat menyebabkan gangguan pendengaran mulai dikenali sejak abad kedelapan belas. Pada awal abad keduapuluh, gangguan pendengaran akibat bising ini dikenal dengan nama Boilermaker’s Deafness (Arts, 1999). Istilah ini muncul mungkin karena pada saat itu ketulian ini ditemukan pada para pekerja pabrik yang bising.

Jika kita tetap menginginkan untuk terus menikmati kualitas hidup sehat, maka menjaga alat indera terutama pendengaran adalah kuncinya. Tulisan ini mencoba untuk menjelaskan apa itu gangguan pendengaran akibat bising, patofisiologi, menegakkan diagnosis dan cara pencegahannya.

PATOFISIOLOGI
Sistem pendengaran adalah sebuah sistem yang kompleks. Sistem ini bergantung pada beberapa sistem lain untuk menjalankan fungsinya dengan baik. Fungsi pendengaran normal bergantung pada mekanisme mekanik pada telinga tengah dan koklea, mikromekanik dan seluler dari organon corti, keseimbangan kimiawi dan lingkungan bioelektris telinga dalam, dan sistem saraf pusat beserta saraf penghubungnya yang bekerja dengan baik (Arts, 1999).

Sebagian besar paparan bising akan menyebabkan gangguan pendengaran sensorineural sementara yang dapat pulih dalam 24 sampai 48 jam. Keadaan reversibel ini disebut sebagai kenaikan ambang dengar sementara atau Temporary Threshold Shift (TTS) (Arts, 1999). Apabila bising tersebut memiliki intensitas yang cukup tinggi atau waktu paparan yang cukup lama bahkan keduanya, maka akan terjadi kenaikan ambang dengar permanen, Permanent Threshold Shift (PTS) (Arts, 1999). Sedangkan trauma akustik adalah suatu paparan bising dalam tingkat yang berbahaya dimana akan mengakibatkan keadaan PTS tanpa melalui proses TTS dalam satu kali paparan (Arts, 1999).

Stadium dini dari tuli akibat paparan bising ditandai dengan kurva ambang pendengaran yang curam pada frekuensi diantara 3000 dan 6000 Hz, biasanya pertama kali muncul pada 4000 Hz. Pada fase dini ini penderita mungkin hanya mengeluh tinitus, suara yang teredam, rasa tidak nyaman di telinga, atau penurunan pendengaran yang temporer. Keluhan-keluhan ini dirasakan pada saat berada ditempat bising, atau sesaat setelah meninggalkan tempat bising. Keluhan kemudian akan berangsur menghilang setelah beberapa jam jauh dari lingkungan bising. Gangguan pendengaran biasanya tidak disadari sampai ambang pendengaran bunyi nada percakapan yaitu 500, 1000, 2000 dan 3000 Hz lebih dari 25 dB. Awal dan perkembangan tuli syaraf akibat bising lambat dan tidak jelas. Ketulian selalu bertipe sensorineural dan serupa baik kualitas maupun kuantitasnya pada kedua telinga. Secara otoskopik, membran timpani tampak normal (Fox, 1997).

Dobie, R.A (2001) dalam Head and Neck Surgery-Otolaryngology, menjelaskan bahwa GPAB mengakibatkan kerusakan pada organon corti. Didapatkan kesulitan dalam menemukan kelainan anatomis sehubungan dengan TTS, tetapi diyakini bahwa kelainan ini disebabkan oleh stereocilia dari sel rambut yang berkurang ketegangannya yang mengakibatkan turunnya respon terhadap rangsangan. Ketidakteraturan stereocilia ini dapat kembali normal dalam jangka waktu tertentu. Sejalan dengan meningkatnya intensitas dan durasi paparan bising, maka kerusakan akan semakin berat sampai akhirnya terjadi hilangnya stereocilia tersebut. Ketika stereocilia telah hilang, maka sel rambut sendiri akan mengalami kerusakan. Dengan bertambahnya paparan, maka sel rambut dan sel-sel pendukung dalam organon corti akan turut rusak. Selain itu juga dilaporkan adanya degenerasi syaraf pendengaran dan nukleus pendengaran.

Penelitian eksperimental menunjukkan bahwa nada murni dengan frekuensi dan intensitas tinggi akan merusak struktur di ujung tengah basal (mid basal end) koklea dan frekuensi rendah akan merusak struktur dekat apeks koklea. Bising dengan spektrum lebar dan intensitas tinggi akan menyebabkan perubahan struktur di putaran basal pada daerah yang melayani nada 4000 Hz. Kerusakan ringan terdiri dari terputusnya dan degenerasi sel-sel rambut luar dan sel-sel penunjangnya. Kerusakan yang lebih berat menunjukkan adanya degenerasi, baik sel rambut luar maupun sel rambut dalam dan atau hilangnya seluruh organon corti (Fox, 1997).

Beberapa teori telah diajukan mengenai mengapa daerah yang melayani frekuensi 4000 Hz lebih rentan terhadap pemaparan bising. Teori yang paling populer adalah bahwa struktur anatomi di daerah tersebut lebih lemah. Kelemahan struktur anatomi tersebut adalah sebagai akibat ketajaman pendengaran dan spektrum dari stimulus suara. Didapatkan bahwa ketulian yang paling dini terjadi pada sekitar satu sampai satu setengah oktaf diatas skala frekuensi nada stimulator. Karena ambang pendengaran lebih peka pada nada diantara 1000 dan 3000 Hz, beralasan untuk menduga bahwa bising industri, karena spektrumnya, akan menyebabkan kerusakan paling dini pada frekuensi antara 3000 sampai 4000 Hz (Fox, 1997).

Besarnya gangguan pendengaran yang didapat tidak hanya dipengaruhi oleh intensitas bising dan durasi paparan tetapi juga karakter dari bising tersebut (spektrum frekuensi dan pola waktu). Paparan terhadap nada murni atau bising dengan spektrum frekuensi yang sempit menyebabkan gangguan pendengaran terbesar. Gangguan pendengaran tersebut terjadi pada kira-kira satu setengah oktaf diatas frekuensi suara dengan energi terbesar. Alasan dibalik pergeseran satu setengah oktaf ini paling mungkin adalah dari jarak pergeseran maksimal membran basilar terhadap dasar koklea saat adanya peningkatan intensitas suara (Moller, 2006).

Selain bervariasinya kondisi paparan, ada beberapa hal yang menyebabkan bervariasinya kejadian GPAB pada paparan bising yang sama. Selain oleh paparan bising, GPAB juga dipengaruhi oleh beberapa variabilitas meliputi perbedaan genetis, usia, jenis kelamin, warna kulit, perbedaan jalur konduksi suara (telinga luar dan telinga tengah), suplai darah, dan inervasi koklea.

DIAGNOSIS
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik termasuk otoskopi, dan pemeriksaan penunjang seperti audiometri. Pada anamnesis ditemukan adanya tanda pernah berada di tempat dengan bising tinggi dalam jangka waktu lama atau intensitas tinggi. Bising intensitas tinggi tidak hanya didapat dari tempat bekerja, tetapi dapat juga didapat di lingkungan tempat tinggal sehari-hari, contohnya riwayat penggunaan pemutar musik yang berlebihan, aktifitas ke pusat hiburan yang terlalu sering, berada di lalu lintas padat dalam jangka waktu lama dan lain-lain.

Pada pemeriksaan otoskopi biasanya tidak ditemukan adanya kelainan. Pemeriksaan audiologi didapatkan tanda-tanda tuli sensori neural pada tes penala. Pemeriksaan audiometri nada murni didapatkan tuli sensorineural pada frekuensi antara 3000-6000 Hz dan pada frekuensi 4000 Hz sering didapatkan takik (notch) yang patognomonik untuk jenis ketulian ini (Soetirto, 2006).

Pemeriksaan audiologi khusus seperti SISI (Short Increment Sensitivity Index), ABLB (Alternate Binaural loudness balance), MLB (monoaural Loudness Balance), audiometri tutur, hasil menunjukkan adanya fenomena rekrutmen yang patognomonik untuk tuli saraf koklea. Rekrutmen adalah suatu fenomena dimana telinga yang tuli menjadi lebih sensitif terhadap kenaikan intensitas bunyi yang kecil pada frekuensi tertentu setelah melewati ambang dengarnya (Soetirto, 2006). Sebagai contoh, orang yang pendengarannya normal tidak dapat mendeteksi kenaikan intensitas bunyi sebesar 1 dB bila sedang mendengarkan bunyi nada murni yang kontinyu, sedangkan bila ada rekrutmen maka akan dapat mendeteksi kenaikan bunyi tersebut.

PENCEGAHAN GPAB
Untuk mengurangi angka terjadinya GPAB, diperlukan usaha-usaha baik secara promotif preventif dan rehabilitatif. Dalam mengupayakan usaha tersebut diperlukan kerjasama yang baik dari masyarakat dan pemerintah melalui tenaga kesehatan.

Tindakan pencegahan merupakan hal paling bijak yang dapat kita lakukan dalam menghadapi masalah GPAB ini. Sejalan dengan ini, Departemen Tenaga Kerja berdasarkan Keputusan Menteri Tenaga Kerja nomor: KEP-51/MEN/1999 telah menentukan batas paparan suara bising yang diperkenankan.

GANGGUAN PENDENGARAN AKIBAT BISING
Dengan dikeluarkannya peraturan, pemerintah berusaha melindungi masyarakatnya yang bekerja ditempat bising. Perlindungan tersebut diwujudkan dengan pengaturan jam kerja sesuai dengan paparan bising yang didapat oleh pekerja.

Pembatasan pemaparan bising dapat dilakukan dengan mengontrol lingkungan mesin atau perlindungan diri pekerja yang terpapar. Program konservasi pendengaran yang ideal adalah dapat mengurangi atau menghilangkan bising yang berbahaya tepat pada sumbernya (Fox, 1997). Sayangnya kondisi ideal ini sukar dicapai ditinjau dari pengaturan teknis dan ekonomi. Apabila pengontrolan sumber bising tersebut masih tetap mebahayakan, maka dapat diberikan Alat Pelindung Diri (APD) pekerja berupa sumbat telinga (Fox, 1997).

Usaha-usaha diatas merupakan pencegahan terjadinya GPAB di tempat kerja, yang disebut dengan Occupational Hearing Loss. Tetapi ada yang tidak kalah pentingnya yaitu tindakan pencegahan GPAB diluar lingkungan kerja, yang disebut dengan non-Occupational Hearing Loss.

Komnas PGPKT (Komite Nasional Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian) telah melakukan penelitian menggunakan sound level meter di 10 kota besar Indonesia pada tempat bermain anak, balita dan remaja. Hasilnya sangat mengejutkan dimana tingkat kebisingan di area tersebut mencapai 90-97,9 dB. Komisi ini juga mengukur pemutar musik portabel, dimana didapatkan angka 80 dB pada volume suara 50-60% (Husni, 2001). Sumber-sumber bising ini rupanya belum mendapat perhatian lebih sehingga belum ada peraturan yang mengikatnya. Padahal sumber bising ini tidak kalah berbahaya dibanding dengan kebisingan di tempat kerja, baik dari segi intensitas bising dan durasi paparan yang sulit terkontrol.

Untuk dapat menghindari terjadinya ketulian akibat bising terutama diluar lingkungan kerja ini perlu kiranya kita mendorong pemerintah melalui dinas terkait untuk membuat peraturan tentang ‘Intensitas Bising’ yang diijinkan di tempat hiburan, arena bermain anak, dan pengontrolan penggunaan alat musik digital dan lain-lain (Husni, 2001).

Selain itu kontrol orang tua terhadap anaknya juga tidak kalah pentingnya. Kontrol ini diperlukan sebagai benteng keluarga, sementara pemerintah membuat peraturan yang melindungi masyarakat dari paparan bising diluar tempat kerja. Orangtua hendaknya memberikan arahan tentang penggunaan alat pemutar musik kepada anaknya, dengan tidak memutar volume melebihi 50%. Proteksi juga dilakukan dengan membatasi waktu kunjungan anak ke pusat perbelanjaan dan arena bermain anak. Karena tempat-tempat tersebut berdasarkan penelitian memiliki intensitas bunyi sebesar 90-97 dB, sehingga kita tidak boleh lebih dari satu jam disana.

DAFTAR PUSTAKA
  • Arts, A. H., 1999. Differential Diagnosis of Sensorineural Hearing Loss. Dalam: Cummings, C. W., Otolaryngology Head and Neck Surgery. Edisi ke-3. Mosby-Year Book, St Louis-Toronto.
  • Bunde, Y. E., 2012. Bising Mengepung. http://ketulian.com/v1/web/index.php?to=article&id=36. Diakses pada tanggal 12 Oktober 2012.
  • Burkey, J. M., 2006. Baby Boomers and Hearing Loss: A Guide to Prevention and Care. Rutgers University Press, New Brunswick-London.
  • Fox, M. S., 1997. Pemaparan Bising Industri dan Kurang Pendengaran. Dalam: Ballenger, J. J., Penyakit Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala dan Leher. Jilid dua. Alih bahasa: Staf pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Binarupa Aksara, Jakarta.
  • Dobie, A. R., 2001. Noice-Induce Hearing Loss. Dalam: Byron, J. B., Healy, G. B., Johnson, J. T., Jackler, R. K., Calhoun, K. H., Pillsbury III, H. C., Tardy Jr, M. E., Head an Neck Surgery – Otolaryngology. Edisi ke-3. Lippincott Milliams & Wilkins, Milwaukee.
  • Husni, T., 2011. Waspadai bising. http://www.ccde.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=458:waspadai-bising&catid=21:sehati&Itemid=28. Diakses pada tanggal 12 Oktober 2012
  • Keputusan Menteri Tenaga Kerja., 1999. Nomor: KEP-51/MEN/1999. Tentang. Nilai Ambang Batas Faktor Fisika di Tempat Kerja.
  • Kinsela, K., Suzman, R., Robine, J. M., Myers, G., 2000. Demography of Older Population in Developed Countries. Dalam: Evans, J. G., Williams, T. F., Oxford Textbook of Geriatric Medicine. Edisi ke-2. Oxford University Press, Boston.
  • Moller, A. R., 2006. Hearing: Anatomy, Phisiology and Disorders of Auditory System. Edisi ke-2. Elsevier, Amsterdam-Tokyo, 219-226
  • Soetirto, I., Bashirudin, J., 2006. Tuli Akibat Bising (Noise Induced Hearing Loss). Dalam: Soepardi, E.A., Iskandar, N., Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. Edisi ke Lima. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.
  • Soetjipto, D., 2007. Gangguan Pendengaran Akibat Bising/ GPAB. http://ketulian.com/v1/web/index.php?to=article&id=15. Diakses pada tanggal 12 Oktober 2012.
Sumber : http://medicine.uii.ac.id/index.php/Artikel/Gangguan-Pendengaran-Akibat-Bising.html

Download File Gangguan Pendengaran Akibat Bising dalam bentuk PDF disini
readmore »»  

Arsip Blog